MEMBANGUN KESADARAN PEMILIH PEMULA DAN GEN Z TERHADAP DEMOKRASI
BANDUNG – KPU Kota Bandung mengikuti Kegiatan Parmas Insight Chapter #12 dengan Tema: “Pemilih Pemula dan Generasi Z (Strategi masuk Sekolah dan Kampus, tantangan era Digital) secara daring, Rabu (22/1/2026). Kegiatan ini dihadiri Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat dan SDM bersama Kepala Subbagian Parmas KPU Kabupaten/Kota se-Jawa Barat, turut hadir Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kota Bandung, Wenti Frihadianti bersama jajaran staf. Acara dibuka oleh Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat KPU Provinsi Jawa Barat, Hedi Ardia, didampingi Kepala Bagian Parmas dan SDM, Yunike Puspita serta Kasubag Parmas, Fahmi Kamal. Forum ini menghadirkan Keynote Speech dari Sekretaris Diskominfo Provinsi Jawa Barat, Bayu Rakhmana. Sesi penyampaian materi narasumber dipandu oleh Kasubag Parmas dan SDM KPU Kota Cimahi, Yusti Rahayu. Dalam sambutan Herdi Ardia menyampaikan bahwa tema kali ini sangat krusial mengingat data menunjukkan lebih dari 30% penduduk Indonesia adalah Gen Z dan pada pemilu mendatang, mereka akan menjadi pemilih yang sangat dominan, artinya kualitas demokrasi kita, hiruk pikuk demokrasi elektoral kita ke depan itu sangat tergantung pada sejauh mana mereka memahami, peduli dan mau terlibat secara aktif dalam proses pemilu. Gen Z yang dikenal akrab dengan gadget dan melek teknologi memiliki kerentanan yang tinggi terhadap polarisasi digital dan politik identitas sehingga ini menjadi tantangan yang dihadapi KPU dimana tidak hanya berhadapan dengan rendahnya literasi politik, KPU juga dihadapkan pada maraknya disinformasi, hoax, serta algoritma media sosial yang sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Dalam mengatasi tantangan ini, KPU Provinsi Jawa Barat menilai strategi masuk sekolah dan kampus bukan lagi sekadar agenda formal, melainkan ruang strategis untuk membangun kesadaran Gen Z terhadap nalar demokrasi dan etika digital serta mereka diharapkan tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga fasilitator dialog dan penjaga kualitas demokrasi itu sendiri. Sementara itu, Sekretaris Diskominfo Provinsi Jawa Barat, Bayu Rakhmana, menjelaskan bahwa Gen Z adalah generasi yang lahir dalam era digitalisasi dimana arus informasi sangat cepat dan mudah didapatkan melalui HP atau gadget, sehingga sangat rentan terpapar disinformasi ataupun misinformasi dan Ini menjadi tantangan bagi kita semua, bukan hanya sekadar sosialisasi tetapi ada pembentukan kesadaran bagi pemilih. Generasi Z cenderung berpikir efektif dan efisien, serta menginginkan keuntungan yang jelas dari partisipasi mereka, oleh karena itu sosialisasi harus mampu menjawab pertanyaan mendasar Gen Z: "Apa fungsinya, buat apa bagi mereka, terus dampaknya apa bagi mereka, keuntungan bagi mereka seperti apa.” Strategi yang direkomendasikan antara lain penggunaan kanal-kanal media sosial, konten-konten kreatif, serta menggalakkan diskusi di kampus atau komunitas pelajar. Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Narasumber yaitu Ketua Divisi Sosdiklihparmas dan SDM KPU Kota Depok, Achmad Firdaus, menyampaikan bahwa profil Gen Z menunjukkan kecenderungan yang sulit ditebak mereka dikenal sebagai digital native yang aktif di ruang digital, namun seringkali terlepas dari ekosistem politik formal. Beberapa tantangan utama dalam menjangkau Gen Z adalah rendahnya literasi politik, apatisme politik, keterikatan terhadap partai atau lembaga politik rendah bahkan tidak sama sekali. Strategi yang dilakukan oleh KPU Kota Depok melaksanakan sosialisasi di 23 SMA dengan target 2.300 siswa, Pembentukan Duta Pilkada KPPS dimana banyak anggota KPPS masuk kategori Gen Z dan membuat materi sosialisasi yang meliputi hak dan kewajiban pemilih, cara memilih yang benar, serta melawan hoax dan kampanye hitam. Dilanjutkan pemaparan dari Ketua Divisi Sosdiklihparmas dan SDM KPU Kabupaten Bandung, Abdur Rozaq, S.Hum, menyampaikan tiga tantangan utama dalam melakukan sosialisasi di tengah arus digitalisasi yaitu Infodemik dan Disinformasi Digital, Keterbatasan Literasi Politik Digital, Engagement versus Turnout Gap (keterlibatan aktif secara digital tidak menjamin tingginya hasil akhir partisipasi). Beberapa strategi yang diusulkan dan telah diterapkan oleh KPU Kabupaten Bandung meliputi: menggabungkan metode konvensional tatap muka (seperti sosialisasi intensif ke SMA/SMK) dengan metode digital untuk mengintegrasikan edukasi di sekolah dan kampus, Mengedukasi pemilih tentang cara cek fakta, mengenali ciri-ciri disinformasi, dan merujuk pada sumber informasi resmi, kolaborasi stakeholder (pentahelix), dan menumbuhkan kesadaran politik melalui pentas seni dan budaya, seperti kegiatan wayang cilik untuk memberikan wajah baru yang lebih menarik pada pendidikan pemilih tanpa menghilangkan esensi tujuannya Dilanjutkan pemaparan dari Ketua Divisi Sosdiklihparmas dan SDM KPU Kota Sukabumi, Seni Soniansih, menyampaikan bahwa sosialisasi dan pendidikan pemilih berkelanjutan ini diutamakan untuk membangun dan meningkatkan kualitas kesadaran politik masyarakat agar menjadi pemilih yang cerdas, rasional, dan mandiri dalam jangka panjang sehingga KPU Kota Sukabumi menyusun enam strategi utama yaitu KPU Kota Sukabumi menjadi narasumber untuk menyampaikan pengetahuan demokrasi dalam program pendidikan Pancasila dan Demokrasi (P5) di sekolah-sekolah, optimalisasi Fasilitas Edukasi Publik (Rumah Pintar Pemilu/RPP), pelaksanaan podcast KPU Kota Sukabumi secara rutin dan konsisten untuk memberikan informasi seluas-luasnya di masa nontahapan, sosialisasi berbasis kemasyarakatan, sosialisasi berbasis kemasyarakatan, peningkatan kapasitas SDM KPU Kota Sukabumi dan Sinergi Lembaga Pendidikan. Menutup kegiatan, Hedi Ardia menyampaikan bahwa berdasarkan data yang ada, Gen Z diprediksi akan mendominasi populasi pemilih di Indonesia pada Pemilu 2029 mendatang sehingga pendekatan yang normatif disarankan untuk ditinjau ulang, kelompok pemilih muda ini dinilai membutuhkan narasi yang relevan, metode yang kreatif, serta kehadiran yang konsisten.
Selengkapnya